Senin, 19 Juli 2010

rantauan

belumpun genap dua hari menghurup udara kote,
besok harus masuk kampung lagi.............
tapi besok ini beda.
mungkin tak ada lagi cerita lontong abon,

dua hari menempa fisik di pantai Gosong yang berlumpur, lumpur hitam, pekat
berbaur diantara pemuda muslim yang berbeda usia,
anak SMA, mahasiswa pun dosen ada juga


bela diri, baris - baris, medikal praktis
long march yang menipiskan alas kaki, memeras keringat, dua jam berlalu habiskan watu berjalan kaki, rasakan nyeri sendi yang terjadi dikaki, dipudak yang bergantungan ransel tempat pakaian kotor.

tongkat - tongkat dijadikan alat, alat untuk memanggul
memanggul barang yang menjadi berat, sisa - sisa tempat makan dan alas tidur.

belumpun lewat tengah malam mata sudah mengajak keperaduan
belumpun mata sempat terpejam sudah harus jalan malam
jalan malam kena hujan
lewat makam mata rasa mau pejam
lalu lalang cari nomor
cari nomor sampai tiga jam


ada juga
lontong, lontong bukan lontong sayur
tapi hanya lontong abon
untuk mengganjal perut yang pada keroncongan

indomie telor, campur ikan sarden tambah sawi setengah busuk masaknya malam2 biar semua mau makan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar